Hargotirto (12/08/2026) - Masyarakat dari 3 (tiga) Padukuhan meliputi Padukuhan Teganing I, Teganing II, dan Teganing III melakukan kegiatan yang mereka sebut sedekah bumi “saparan” pada hari Rabu tanggal 12 Agustus 2026. Kegiatan yang dimulai sejak pagi dengan segala persiapan nya, dihadiri oleh beberapa tokoh adat dan pemerintahan setempat.
Tampak hadir pada acara yang digelar di petilasan “Sebatur” padukuhan Teganing II ini antara lain Lurah Hargotirto yang didampingi oleh Kamituwo Hargotirto Tony Hernanto, Panewu Kokap yang diwakili oleh Kepala Jawatan Sosial, perwakilan dari Kundha Kabudayan Kabupaten Kulon Progo serta tokoh masyarakat dan tokoh adat setempat.
Prosesi Upacara ini dimulai dengan kirab budaya dan gunungan dimana warga masyarakat Teganing mengarak gunungan yang terbuat dari hasil bumi dan jajanan pasar yang nantinya akan diperebutkan seluruh warga.
Rangkaian acara selanjutnya adalah doa dan kenduri yang dipimpin oleh tokoh adat setempat dan diakhiri pertunjukan seni tradisional.
Waljiyo, selaku Ketua Penyelenggara dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada semua pihak, termasuk para mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari UIN Yogyakarta yang telah membantu terlaksananya acara sedekah bumi “saparan” pada tahun ini. Kegiatan ini merupakan warisan budaya dari para nenek moyang yang dilestarikan oleh generasi selanjutnya sampai saat ini, tegasnya.
Sementara itu, Nuryo Hardjono selaku sesepuh adat dari Teganing menyampaikan sekilas mitologi yang diyakini oleh warga setempat. Acara ini bertujuan pula untuk mempererat tali persaudaraan antar komponen, baik kepada sesama warga maupun kepada pemerintah, selain itu juga sebagai perwujudan rasa syukur.
“menurut cerita nenek moyang yang telah mendahului kita dan disebarkan dari mulut ke mulut yang diwariskan untuk masyarakat Teganing, pada abad 16 sampai 17 Sunan Kalijaga memerintahkan sembilan santri yang dipimpin Cakra Jaya alias Sunan Geseng untuk menyebarkan agama Islam yang bertempat di suatu desa bernama Teganing. Kedatang Cakra Jaya dan kawan kawan disambut oleh masyarakat dengan kegembiraan. Karena pembawaan yang ramah sehingga menarik warga desa untuk menimba ilmu kepada Cakra Jaya. Seiring bertambahnya santri maka Cakra Jaya berencana membuat Padepokan, dengan memerintahkan kepada Mbah Toharu untuk mengarsiteki pembangunan padepokan, namun baru saja memulai pekerjaan (mbatur/menyiapkan lahan) beliau nya tutup usia karena suatu penyakit. Karena bentuk nya baru sebuah “baturan”, maka tempat itu kemudian dikenal oleh warga setempat dengan nama “Sebatur” “, demikian disampaikan oleh Mbah Nuryo. (boy)