SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI DESA HARGOTIRTO

 

Sejarah Desa

superadmin 05 Maret 2019 15:31:29

Sejarah Desa Hargotirto

Batas wilayah kelurahan Hargotirto masih tetap seperti sekarang. Kelurahan Pantaran dibatasi oleh bukit dari Plawangan sampai Gunung Gajah ( Teganing I ). Batas yang terkenal adalah Tanggulangsi di wilayah Keji. Tanggulangsi berarti “ Tanggul Asri “. Disebelah barat ada 7 dusun, sebelah timur ada 4 dusun  yang diberi nama  Pantaran, dan 3 dusun diberi nama Teganing I, Teganing II, dan Teganing III.

Pada jaman penjajahan, kelurahan Hargotirto dibagi dua pemerintahan yaitu :

  1. Kelurahan Tirto yang bertempat di Dusun Menguri yang pada saat ini digunakan sebagai SD N Menguri. Lurah Tirto  pada saat itu dijabat oleh Ki Joyo Setiko. Kelurahan Tirto ini berlangsung pada saat penjajahan Belanda.
  2. Kelurahan Pantaran yang bertempat di Dusun Sekendal. Lurah Pantaran dijabat oleh R. Somokarto.

Namun pada perkembangannya kedua kelurahan itu disatukan dan diberi nama Adapun silsilah pemerintahan kelurahan Hargotirto yaitu :

  1. Lurah pertama adalah R. Somodiwongso. Pada waktu pemerintahan R. Somodiwongso yang menjabat carik berasal dari Pendem Pengasih dengan nama R. Somokarto.Pada waktu itu masih zaman penjajahan Belanda.
  2. Setelah R. Somodiwongso wafat lurah selanjutnya dijabat oleh R.Somokarto. Seiring dengan itu tempat kantor kelurahan kelurahan dipindah kerumah R. Somokarto di Pantaran Segajih (sekarang tempatnya Bapak Suprantono).
  3. Setelah dijabat R. Somokarto, lurah yang berkuasa selanjutnya adalah RM.Mangkuadmojo yang kemudian dikenal dengan nama Romo Bei. Romo Bei berasal dari Yogyakarta. Pada saaat itu Indonesia masih dijajah jepang. Romo Bei menjabat lurah sampai masa kemerdekaan.
  4. Pemerintahan Romo Bei (RM.Mangkuadmojo ) kemudian digantikan oleh Bpk. Hadi Puspito. Bapak Hadi Puspito adalah anggota Polisi Pamong Praja yang diperintah oleh Bupati untuk sementara mengisi kekosongan pemerintahan sampai kekosongan terisi.
  5. Bapak Hadi Puspito kemudian digantikan oleh lurah yang telah terbentuk yaitu Bapak Tamat Wiryosumarto dari dusun Tirto. Pada masa pemilihan lurah pada saat itu telah memakai system pilihan langsung oleh masyarakat. Pada saat itu Bapak Tamat Wiryosumarto menggunakan gambar Payung sebagai lambang pemilihan lurah, dengan harapan Bapak Tamat bisa memayungi warga Hargotirto dengan aman, tentram, makmur dan sejahtera. Pemerintahan Bapak Tamat Wiryosumarto dimulai dari tanggal 22 Juli 1975 dan berakhir pada bulan Desember 1995.
  6. Pemerintahan selanjutnya yaitu dijabat oleh Bapak Supardi sampai dua masa bakti. Masa bakti periode pertama dimulai tahun 1996 sampai tahun 2004, lalu untuk masa bakti periode kedua dimulai tahun 2005 sampai tahun 2014.

Jauh sebelum jaman penjajahan di desa Hargotirto tepatnya di Dusun Tirto masih berwujud hutan tua yang lebat serta banyak terdapat rawa-rawa yang digenangi air. Pada saat itu rakyat yang telah menghuni daerah itu tidak bias berkembang dengan nyaman karena selalu mendapat gangguan dari makhluk halus. Tidak lama kemudian datanglah seorang pendatang yang bernama Gono yang mempunyai pemikiran bagaimana caranya mewujudkan rakyat yang aman, dan nyaman.

Pada saat itu Gono mengadakan perlombaan antara dia dan makhluk halus dengan cara bertapa, siapa yang bisa menahan kantuk sampai pagi dia yang menang, tetapi pada saat itu Gono kalah. Kemudian di lain waktu Gono mengadakan perlombaan yang sama dengan makhluk halus di Gunung Tapa  dan Gono menang. Tetapi makhluk halus walaupun kalah mengajukan permintaan kepada Gono yaitu meminta papan dan pangan. Gono menyetujui dan berpesan agar rakyat jangan diganggunya lagi. Pada suatu tempat yang bernama Sanggrahan Gono bercengkrama dengan temannya yang bernama Kyai Sepi dan Ki Joko Kerti, Gono mengatakan bahwa dia sudah memperjuangkan Tirto dan sudah menjadi wilayah yang aman, makmur dan nyaman maka dia akan segera meninggalkan Tirto meneruskan perjalanannya munuju Gunung Merapi dan menyerahkan Tirto kepada kedua temannya. Sejak saat itu tempat yang dipakai Gono untuk bertapa dinamakan Petilasan Gono Tirto.

Di tengah perjalanan sampai puncak Teganing dia mangu-mangu (ragu-ragu) untuk meninggalkan Tirto (tempat itu yang kemudian dikenal dengan Gomangu ) tetapi direnungkan kembali dia harus tega dan kemudian tempat itu dinamakan juga Teganing. Dalam perjalannnya Ki Gono kemalaman di GoSukro ( Teganing III) pada malam Jumat Kliwon. Pada saat itu dia ingat bahwa pada saat di Tirto masih punya janji dengan makhluk halus, disitu Ki Gono menulis  pesan yang dikirim ke Tirto oleh orang setempat yang berisi “ Setiap Jumat kliwon 3 tahun sekali rakyat Tirto harus menyembelih kambing di petilasan Ki GonoTirto, tempat untuk menulis pesan itu dinamakan Go Tulis, dan daerah yang dilewati untuk beristirahat kemudian dinamakan Si Batur. Adapun kepala kambing harus dipendam beserta darah kambing, dan kaki kambing di pendam di 4 pojok petilasan. Adapun kambing yang disembelih harus yang kendhit ( kambing hitam dan tubuhnya dilingkari warna putih) tetapi kalau tidak ada perkembangannya boleh dibalut kain mori.

Demikian sejarah Gono Tirto, dan masyarakat Tirto meyakini  dan sebagian orang tetap melestarikan Petilasan Ki Gono Tirto.

Komentar untuk artikel ini telah ditutup.

Website Desa ini :
Terbaik 3 Jumlah Penggunaan Layanan Bulan November Tahun 2019

Wilayah Desa

Aparatur Desa

Kepala Desa Sekretaris Desa Kasi Kemasyarakatan Kasi Pemerintahan Kasi Pembanguanan & Pemberdayaan Kaur Perencanaan dan Keuangan Kaur Umum Aparatur Desa dan Aset Dukuh Soropati Dukuh Sekendal Dukuh Keji Lainnya Dukuh Teganing I Dukuh Teganing II Dukuh Teganing III Lainnya Dukuh Crangah Dukuh Sungapan I Lainnya Dukuh Menguri Dukuh Sebatang Dukuh Nganti Staff Desa

Layanan Mandiri


Silakan datang atau hubungi operator desa untuk mendapatkan kode PIN anda.

Masukan NIK dan PIN

Sinergi Program

Komentar Terkini

Info Media Sosial

FacebookTwitterGoogle PlusYouTubeInstagram

Lokasi Kantor Desa

Statistik Pengunjung

Hari ini
Kemarin
Jumlah pengunjung