You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Kalurahan HARGOTIRTO
Kalurahan HARGOTIRTO

Kap. Kokap, Kab. Kulon Progo, Provinsi DI Yogyakarta

SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI PEMERINTAH KALURAHAN HARGOTIRTO HARGOTIRTO SUMRINGAH GUMREGAH BERKEMAJUAN PEMERINTAH KALURAHAN HARGOTIRTO MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1445 H MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

UNICEF : 50 Persen Balita Indonesia Mengalami Gizi Buruk

Administrator 18 Oktober 2019 Dibaca 1.044 Kali

[KBR|Warita Desa] Masalah gizi buruk masih melanda anak-anak sedunia, termasuk anak-anak Indonesia.

Hal ini diungkapkan organisasi PBB di bidang kesejahteraan anak, UNICEF, melalui laporan State of the World's Children 2019: Children, Food, and Nutrition yang dirilis Selasa (15/10/2019).

Menurut UNICEF, di Indonesia ada 50-59 persen anak di bawah lima tahun (balita) yang termasuk kategori "not growing well" atau pertumbuhannya tidak baik.

"Anak-anak yang pertumbuhannya tidak baik adalah korban dari tiga masalah gizi buruk yang berkembang di seluruh dunia: kurang gizi, lapar terselubung (hidden hunger), dan kelebihan berat badan," jelas UNICEF dalam laporannya.

“Jutaan anak hidup dengan pola makan tidak sehat karena mereka tak punya pilihan. Ini bukan hanya tentang memberi makan untuk anak, tapi bagaimana memberi mereka makanan yang baik. Itu tantangan bagi kita sekarang,” kata Direktur Eksekutif UNICEF Henrietta Fore dalam rilisnya, Selasa (15/10/2019).

Baca Juga : Arben Cup III: Kamal Harus Rela Pulang Lebih Awal


Kemiskinan, Konflik, dan Gaya Hidup

Menurut UNICEF, kekurangan gizi pada balita bisa menyebabkan gangguan pertumbuhan jangka panjang.

"Anak-anak kurang gizi bisa mengalami kekerdilan selama hidupnya. Potensi fisik dan intelektual mereka juga mungkin tak akan pernah berkembang maksimal," jelas UNICEF dalam laporannya.

UNICEF menyebut masalah kurang gizi ini umum terjadi pada anak-anak dari keluarga miskin, atau mereka yang hidup di tengah situasi konflik.

Ada juga masalah gizi buruk yang disebabkan gaya hidup tidak sehat, seperti lapar terselubung dan kelebihan berat badan.

Lapar terselubung (hidden hunger) terjadi pada balita yang kekurangan vitamin dan mineral. Sedangkan kelebihan berat badan terjadi pada balita yang kebanyakan mengonsumsi "makanan murahan" dengan kandungan lemak, gula, dan kalori berlebihan.

"Di abad ke-21 ini banyak anak-anak yang bisa makan, tapi sangat sedikit yang bisa berkembang dengan baik (karena malnutrisi). Padahal ini (masa kanak-kanak) adalah fondasi bagi perkembangan fisik dan mental jangka panjang," jelas UNICEF dalam laporannya.


Kebijakan Makanan Sehat

Untuk mengatasi masalah malnutrisi tersebut, UNICEF meminta pemerintah untuk:

Membuat kebijakan-kebijakan terkait perbaikan gizi, seperti meningkatkan pajak gula untuk mengurangi makanan tidak sehat.Menuntut kalangan produsen supaya memasok makanan sehat bagi anak-anak dengan harga terjangkau.Membuat sistem pelabelan produk sehat dan tidak sehat untuk memudahkan masyarakat dalam memilih makanan.Membangun sistem pendukung kesehatan seperti air bersih, sanitasi, pendidikan, dan perlindungan sosial untuk anak.Melakukan pendataan dan evaluasi berkelanjutan terkait kondisi nutrisi anak.

"Ini adalah perjuangan yang tidak bisa dilakukan sendirian. Kita butuh pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil untuk memprioritaskan nutrisi anak dan bekerja sama mengatasi pola makan tidak sehat dalam segala bentuknya," kata Direktur Eksekutif UNICEF Henrietta Fore dalam rilisnya, Selasa (15/10/2019).

Oleh : Adhi Ahdiat
Editor: Sindu Dharmawan

Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image

APBDes 2025 Pelaksanaan

Pendapatan
Rp3,636,267,256 Rp3,678,137,930
98.86%
Belanja
Rp3,346,504,904 Rp3,649,076,910
91.71%
Pembiayaan
Rp547,336,480 Rp559,733,980
97.79%

APBDes 2025 Pendapatan

Hasil Usaha Desa
Rp35,311,000 Rp35,311,000
100%
Hasil Aset Desa
Rp11,522,000 Rp13,422,000
85.84%
Lain-lain Pendapatan Asli Desa
Rp42,165,605 Rp46,011,605
91.64%
Dana Desa
Rp1,406,401,000 Rp1,406,401,000
100%
Bagi Hasil Pajak Dan Retribusi
Rp166,657,250 Rp206,695,881
80.63%
Alokasi Dana Desa
Rp1,006,277,904 Rp1,006,277,904
100%
Bantuan Keuangan Provinsi
Rp495,000,000 Rp495,000,000
100%
Bantuan Keuangan Kabupaten/kota
Rp445,762,140 Rp445,762,140
100%
Penerimaan Dari Hasil Kerjasama Antar Desa
Rp17,256,400 Rp17,256,400
100%
Bunga Bank
Rp9,913,957 Rp6,000,000
165.23%

APBDes 2025 Pembelanjaan

Bidang Penyelenggaran Pemerintahan Desa
Rp1,761,544,551 Rp1,955,763,369
90.07%
Bidang Pelaksanaan Pembangunan Desa
Rp1,211,369,953 Rp1,243,766,784
97.4%
Bidang Pembinaan Kemasyarakatan
Rp86,430,400 Rp135,153,600
63.95%
Bidang Pemberdayaan Masyarakat
Rp251,560,000 Rp266,686,000
94.33%
Bidang Penanggulangan Bencana, Darurat Dan Mendesak Desa
Rp35,600,000 Rp47,707,157
74.62%